

Apa yang kita lihat ataupun alami di kehidupan ini terkadang tidak seperti kelihatannya. Kadang apa yang kita anggap itu baik belum tentu orang lain menganggapnya baik, begitupun sebaliknya. Dan terkadang sebagian cenderung hanya melihat dari sisi luarnya saja. Padahal banyak hal terjadi pergulatan di dalamnya. Mau atau tidak mau, suka ataupun tidak suka hidup ini hanya akan ada 2 pilihan, baik-buruk, benar-salah, depan-belakang, siang-malam, besar-kecil, hitam-putih, dan sebagainya dan seterusnya. Walapun pelangi itu sendiri bukan juga berasal dari warna hitam dan putih. Banyak warna yang bermain di dalamnya. Bolehkah kita menentukan pilihan untuk berada di tengah-tengah? adakah option tengah-tengah? area abu-abu misalnya. Hampir semua orang mengatakan tidak ingin menjadi buruk. Pasti semua ingin menjadi orang baik bukan? Atau katakanlah, kalau boleh mengumpamakan buruk itu adalah hitam. Seakan-akan kita harus memilih warna putih. Padahal kenyataannya tidak selamanya kita akan selalu menjadi putih. Bisa jadi kita akan lebih nyaman di area abu-abu. Atau kondisi yang membawa kita berada di area abu-abu. Yah semua itu tergantung dari persepsi, dari sudut mana kita memandangnya. Tidak ada yang mutlak benar, ataupun mutlak salah. Yang bisa dilakukan adalah mengupayakan untuk menjadi benar. Sesuai koridor dan standar yang dibenarkan. Bisa jadi niatnya baik, tapi caranya salah, maka hasilnyapun kurang baik. Atau sebaliknya niatnya salah, caranya baik, ini juga kurang sesuai. Sekali lagi ini tergantung dari sudut pandang atau persepsi. Satu hal yang saya yakini sampai sekarang, yang penting mengupayakan segala hal, dimulai dengan niat yang baik, cara yang baik. Dan hasilnyapun akan mengikuti dengan kebaikan pula. (Maaf kalau ada kekeliruan ataupun kurang kesesuaian, ini hanyalah sekedar pendapat)
Hidup itu penuh dengan paradoks
Reviewed by
Unknown
on
08.02
Rating:
5
Tidak ada komentar: