Teman tapi bukan teman?
Aku punya teman. Bukan sekedar teman. Bisa dibilang teman hidup. Bisa juga tidak. Kami terlihat seperti orang pacaran. Sekali lagi aku tegaskan. Hanya "terlihat". Faktanya kami cuma teman. Mungkin lebih sedikit. Hehe
Awalnya aku cukup nyaman dengan ini. Kondisi dimana aku tetap bisa bahagia walaupun tidak dengan pacar. Sesuai dengan prinsipku, bahagia itu tidak harus selalu dengan pacar.
Semakin hari, kami semakin dekat. Setiap hari bertemu. Setiap hari selalu chatingan. Sampai suatu ketika, entah mengapa dalam percakapan kami selalu terselip kata "sayang". Dan kami pun menikmatinya.
Kami cukup saling mengenal. Dari segi karakter, kami memiliki banyak keunikan. Entah mengapa, ketika kami tidak melakukan apapun aku tetap merasa nyaman. Itu yang membuat aku senang berlama-lama berada di dekatnya. Rasanya ingin aku hentikan waktu ketika sedang bersamanya.
Tetapi lama kelamaan, aku mulai bosan. Aku ingin lebih. Aku ingin berkomitmen dengannya. Dalam hal ini aku merasa "status" itu penting. Bukan hanya panggilan sayang dan perlakuan seperti pacar yang aku inginkan. Tapi aku juga ingin status.
Kami memang baru kenal kurang dari dua bulan. Tetapi bukankah cinta itu egois? Tidak memandang berapa lama saling mengenal, berapa sering bertemu, berapa lama menunggu waktu yang tepat untuk menyatukan dua hati yang saling mencintai.
Terperangkap dalam situasi ini bukan lah hal yang menyenangkan. Dilema rasanya. Satu sisi aku senang, ada seseorang spesial di hatiku yang aku perlakukan layaknya seorang princess . Satu sisi aku sedih, bingung untuk bertindak. Rasanya aku tidak mempunyai hak apapun terhadap dirinya karena dia bukan milikku.
Jujur aku lelah. Harus memendam ini sendirian. Ku pikir dia mengerti dan merasakan hal yang sama. Terbukti dari ucapan dan perlakuannya kepadaku. Tetapi mengapa sampai sekarang tetap begini. Tidak ada perubahan. Mau bagaimanapun, kami tetap teman.
Sejauh ini berapa besar yang aku dapatkan? Hanya gini-gini saja. Flat. Ibarat "haha" tanpa tertawa, ini adalah "sayang" tanpa status. Analogi yang aneh.
Harus berapa lama terus begini? Dia tidak bisa meyakinkan hatiku. Rasanya terlalu lama dia terdiam dan meredam cinta. Mau sampai kapan?
Tolong kuatkan aku di zona ini. Aku tak mau pergi, percayalah pacaran itu hanyalah sekedar ilusi kebanyakan orang2 yg ingin aku musnahkan, dan di dalam nya hanya terdapat beribu nafsu yg merusak sosok orang yg kita cintai, aku tidak ingin itu terjadi padanya.
Tapi sekarang aku mulai mengerti
Jika kedua insan mampu saling mencintai tanpa terlilit oleh status apapun, maka dapat dipastikan bahwa mereka benar-benar saling mencintai yg sesungguh nya.
Sedangkan jika kedua insan mengalami proses pacaran, maka bisa jadi hanya sebuah pelampiasan belaka.
Faktanya berapa banyak orang yang tidak bisa move on ?
Lantas kenapa harus terlintas kata putus jika saling mencintai ?
Sehingga bukan tidak mungkin jika mereka melakukannya hanya karena takut kepada status pacaran itu, bukan karena takut kepada perasaannya.


Tidak ada komentar: